Sebagian besar trader pemula hanya menambal sulam kelemahan analisa teknikal mereka dengan mengganti-ganti indikator atau menghabiskan waktu dan uang untuk menemukan \”holy-grail\”. Padahal kekurangan tadi akan lebih baik diperbaiki dengan melatih kebiasaan trading sebagai berikut:

a. Aplikasikan Money Management.
Money management (MM) diperlukan untuk mengontrol banyaknya alokasi uang per posisi. Hal ini jauh lebih penting daripada gonta-ganti indikator karena MM dapat mengatur seberapa besar toleransi resiko kita seandainya harga bergerak di luar ekspektasi awal.

MM juga membantu kita untuk bertahan dalam segala kondisi market, baik kondisi pasar ranging (sideways) maupun trending. Fleksibilitas tersebut akan melatih trader untuk mempertahankan keutuhan modal trading meskipun telah berkali-kali mengalami kerugian kecil.

b. Gunakan Stop Loss dan Take Profit.
Selain membatasi jumlah uang per posisi dengan MM, Stop Loss dan Take Profit akan memberikan perlindungan tambahan bagi akun Anda untuk meminimalisir kerugian dan mengunci keuntungan. Sayangnya, masih banyak trader pemula melakukan kesalahan dalam mengatur TP dan SL.

Dengan alasan di atas, penggunaan TP dan SL dapat membantu mengatasi kelemahan analisa teknikal, terutama jika posisi bergerak tidak sesuai dengan sinyal entri. Seandainya loss, maka SL akan segera menutup posisi untuk mencegah kerugian lebih besar. Sebaliknya jika posisi masih floating, maka TP akan mengunci keuntungan pada level harga tertentu sebelum harga berbalik arah.

c. Diversifikasikan resiko trading.
Alasan utama kenapa trader pemula kehilangan modal saat memulai live trading adalah karena mereka terlalu antusias untuk membuka posisi saat sinyal trading muncul. Lebih parah lagi, mereka menggunakan leverage untuk membuka posisi dengan jumlah lot (volume) besar.

Semakin besar jumlah lot untuk satu posisi atau satu jenis pair saja, maka semakin besar pula resikonya. Maka dari itu, Anda perlu menganekaragamkan alokasi modal/ekuitas pada beberapa pair dengan korelasi negatif. Dengan begitu, meskipun kelemahan analisa teknikal menimbulkan kemungkinan fake signal pada suatu pair, maka loss di pair tersebut dapat ditutupi dengan keuntungan di pair lain.

d. Catat dan kembangkan sistem trading dengan bantuan jurnal trading.
Semua trader profesional pasti berawal sebagai pemula. Namun, tidak semua trader pemula dapat menjadi trader professional. Alasannya, trader professional disiplin dalam menggunakan jurnal trading untuk mencatat setup MM (position sizing, rasio Risk vs. Reward) tiap kali posisi dibuka dan ditutup.

Dari catatan pada jurnal trading tersebut, trader professional dapat mengembangkan setup MM untuk menyesuaikan kondisi pasar terkini, meskipun mereka hanya menggunakan analisa teknikal sederhana seperti price action dan moving average. Itulah alasan kenapa trader professional tidak perlu gonta-ganti indikator.

e. Belajar menggunakan kalender Forex.
Analisa fundamental memang kurang cocok untuk digunakan oleh trader pemula karena tingkat kesulitannya tinggi. Namun, paling tidak, harus belajar menggunakan kalender forex untuk meningkatkan kesadaran di waktu-waktu apa saja pasar Forex diprediksi akan mengalami gejolak harga.

Biasanya, semakin tinggi ekpektasi dampak dari rilis berita yang berkaitan dengan suatu mata uang, maka semakin besar dan lama potensi gejolak harga akan berlangsung. Karena alasan tersebut, trader menyadari kelemahan analisa teknikal dalam kondisi pasar bergejolak, lalu berkeputusan untuk mundur dari pasar sampai situasi kembali normal.