Cara Memperbaiki Kesalahan Memasang Take Profit Serta Stop Loss

Semua kesalahan dalam memasang Take Profit serta Stop Loss muaranya ada di cara berpikir kita. Lho, kok bisa?

Sebagai pemula, bisa dikatakan Anda akan masuk live trading hanya sebagai peramai saja. Betul, soalnya hampir semua pemula akan mencoba memasuki situasi real trading tanpa ada bayangan untuk mengelola kerugian vs. keuntungan layaknya seorang wirausahawan.

Sederhananya, di kepala mereka masih belum tertanam bahwa total profit adalah jumlah perolehan posisi untung (gross profit) dikurangi jumlah perolehan posisi rugi (gross loss). Intinya, tidak peduli seberapa besar win rate sistem trading, yang penting total untung harus bisa menutup total rugi.

Parahnya, meskipun dengan win rate di atas 50%, trader pemula masih kehilangan uang mereka di saat bertrading Forex.

Trader pemula hanya tertarik untuk mendapat profit. Akibatnya, begitu posisi memasuki \”zona merah\”, mereka akan mempertahankan posisi floating minus tersebut dengan harapan harga akan segera berbalik kembali searah dengan posisi mereka.

Begitu juga bila posisi sudah mulai masuk zona profit, trader pemula biasanya terlalu cepat menutup posisi. Intinya, strategi masuk dan keluar pasar masih didominasi oleh emosi.

Nah, setelah kita mengetahui pangkal masalahnya, barulah kita bisa mencari solusi untuk memperbaikinya. Salah satu opsi adalah dengan cara berikut ini:

a. Beri ruang \”bernafas\” antara jarak Stop Loss, Take Profit dan Entry
Intinya sederhana, memasang Take Profit dan Stop Loss itu harus realistis. Maksudnya, kenali dulu volatilitas pasangan mata uang yang ditarget.

Contohnya, saat ini Anda ingin scalping pada pair EUR/USD. Untuk scalping, biasanya trader akan menggunakan timeframe di bawah H4. misalnya harga saat ini memiliki volatilitas sebesar 20.5 pip dalam range H1.

Gunakan angka tersebut sebagai rujukan; misalnya beri jarak 20 pip untuk masing-masing Stop Loss dan Take Profit. Mudah, kan?

b. Tentukan jarak realistis Take Profit dan Stop Loss dulu, baru kemudian hitung lot trading
Setelah Anda mengetahui jarak realistis dari masing-masing pair berdasarkan volatilitasnya, barulah kita masuk ke tahap berikutnya; position-sizing, atau menghitung lot yang akan dibuka.

Misalkan Anda berencana untuk swing trading pada pair EUR/USD selama satu minggu. Dari market andaikan didapat angka rujukan 174.2 pip. Berarti, kira-kira kita akan memasang Take Profit dan Stop Loss pada kisaran angka tersebut. Katakanlah 150 pip.

Setelah itu, silahkah hitung lot trading untuk menentukan modal trading per posisi. Perhitungannya adalah sebagai berikut:

Modal per posisi / (pips range * nilai 1 pip pada 1 lot standard).

Jika Anda berani memasang US $200 pada posisi swing trading mingguan tadi. Maka hitungannya adalah; 200/(150*10) = 0.133 lot

c. Gunakan batas Support dan Resistance sebagai panduan saja
Sebenarnya cukup sederhana saja. Cobalah untuk memandang batas support dan resistance sebagai rambu-rambu saja. Maksudnya, Anda hanya perlu memasang Take Profit dan Stop Loss di dekat batas-batas tersebut.

Secara lebih spesifik, gunakanlah bantuan dari fibonacci retracement sebagai tolok ukur. Kenapa Anda perlu menggunakannya Karena biasanya trend akan \”mengendur\” (retrace) sebesar 61.8% – 78.6% sebelum akhirnya kembali meneruskan arah trend kembali.

Kesimpulan
Memasang Take Profit dan Stop Loss itu bisa dibilang gampang-gampang susah. Butuh jam terbang dan kedisplinan relatif tinggi agar bisa diterapkan dengan hasil konsisten. Intinya, sebagai trader pemula, melakukan kesalahan itu masih bisa dianggap wajar, selama ada keinginan untuk memperbaikinya.